DAERAHLOKALNASIONAL

Daftar Gempa Megathrust di Indonesia, Apakah Belitung Termasuk

BELITUNG, SENDIKATBABEL.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru-baru ini mengeluarkan pernyataan penting mengenai potensi gempa megathrust yang dapat berdampak pada berbagai wilayah di Indonesia. Informasi ini memicu kekhawatiran di masyarakat terkait lokasi-lokasi yang berisiko mengalami gempa besar.

Gempa megathrust adalah gempa besar yang terjadi akibat pergeseran signifikan pada lempeng tektonik, yang sering kali dapat memicu tsunami jika pergeserannya cukup besar. Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, dalam wawancara dengan tvOneNews yang disiarkan di YouTube pada tahun 2022, menjelaskan bahwa Indonesia memiliki 13 segmen jalur megathrust yang tersebar di berbagai daerah.

Menurut Daryono, jalur megathrust di Indonesia mencakup wilayah-wilayah berikut:

– Barat Sumatera
– Andaman
– Aceh
– Nias
– Mentawai
– Bangka Belitung
– Bengkulu
– Enggano
– Selat Sunda
– Jawa Tengah
– Jawa Timur
– Banten
– Bali Selatan
– Nusa Tenggara Barat
– Sumba
– Laut Sulawesi

Daryono juga mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 295 patahan aktif, yang menunjukkan betapa kompleks dan beragamnya sumber gempa di negara ini.

Dalam diskusi yang sama, Heri Andreas, peneliti Geodesi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), menyoroti bahwa Jakarta berpotensi terdampak tsunami jika terjadi gempa megathrust dengan magnitudo 8 atau 9 di Selat Sunda. Berdasarkan simulasi, tsunami setinggi 1 hingga 1,5 meter bisa mencapai Jakarta sekitar tiga jam setelah gempa. Kondisi ini diperburuk oleh beberapa kawasan pesisir Jakarta yang sudah berada 1-2 meter di bawah permukaan laut, berpotensi menyebabkan banjir setinggi 1-2 meter di daerah seperti Pantai Indah Kapuk, Pantai Mutiara, dan Muara Baru.

Informasi ini menjadi peringatan bagi pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana gempa megathrust dan tsunami. Langkah-langkah mitigasi dan edukasi mengenai evakuasi darurat harus terus ditingkatkan guna meminimalisir dampak bencana yang mungkin terjadi.

Baru-baru ini, BMKG kembali mengingatkan tentang potensi gempa besar di wilayah Indonesia, khususnya di zona Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut.

Pernyataan ini disampaikan oleh Daryono, yang menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi kemungkinan gempa di masa mendatang. Meskipun potensi megathrust sudah lama diidentifikasi, hingga kini belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara pasti kapan dan di mana gempa akan terjadi.

“Seismic gap yang terdeteksi di zona Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut menunjukkan adanya potensi, namun kita tidak bisa memastikan waktu terjadinya,” ujarnya pada Senin (12/8/2024). di kutip Kompas.com

Seismic gap merujuk pada periode panjang tanpa aktivitas gempa besar di dua zona tersebut, yang dapat berarti adanya akumulasi energi yang berpotensi dilepaskan dalam bentuk gempa bumi besar. Diperkirakan, gempa di Megathrust Selat Sunda dapat mencapai magnitudo 8,7, sementara di Mentawai-Siberut bisa mencapai magnitudo 8,9.

Meskipun potensi ini mengkhawatirkan, Daryono menegaskan bahwa informasi ini bukanlah prediksi atau peringatan dini. “Penting untuk dipahami bahwa potensi ini bukan berarti gempa akan segera terjadi. Ini lebih kepada pengingat agar kita lebih waspada dan siap,” jelasnya.

Wilayah yang diperkirakan akan terdampak jika gempa megathrust ini terjadi mencakup Jakarta dan sekitarnya, mengingat jarak Selat Sunda yang hanya sekitar 170 kilometer dari ibu kota. Selain itu, wilayah Banten, Jawa Barat, dan Lampung juga berpotensi merasakan dampak yang signifikan, sementara Jawa bagian tengah dan timur mungkin akan merasakan getaran yang lebih kecil.

Gempa besar di zona Megathrust tidak hanya menjadi kekhawatiran di Indonesia. Daryono merujuk pada gempa yang terjadi di Jepang pada 8 Agustus 2024 lalu, yang berpusat di Tunjaman Nankai, sebagai pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan. “Jika kita melihat sejarah, gempa besar terakhir di Nankai terjadi pada 1946, sementara di Mentawai-Siberut terjadi pada 1797. Artinya, selisih waktunya sangat lama, dan kita harus lebih serius dalam mempersiapkan upaya mitigasi,” tambah Daryono.

Mengakhiri pernyataannya, Daryono mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan terus memantau informasi resmi dari BMKG. “Kesiapsiagaan adalah kunci, tetapi masyarakat juga harus tetap menjalani aktivitas sehari-hari dengan normal, sembari tetap waspada,” tutupnya.

(Red/Tim)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button