
BELITUNG, SENDIKATBABEL.COM – Warga Perumahan Puri Kirana 5 di Jalan Mualim, Desa Air Merbau, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, masih menghadapi persoalan distribusi air bersih yang belum stabil. Aliran air disebut sering melemah bahkan berhenti total, kondisi yang telah dirasakan sejak pertengahan 2025 hingga awal 2026 tanpa kepastian perbaikan menyeluruh.
Direktur Perumda Air Minum Tirta Batu Mentas Belitung, Munandar Motong, membenarkan adanya gangguan teknis yang berdampak pada suplai air ke wilayah tersebut. Ia menjelaskan, operasional instalasi pengolahan air atau Water Treatment Plant (WTP) kerap terganggu saat cuaca ekstrem.
“Ketika hujan deras disertai petir, kami harus menghentikan sementara operasional WTP. Saat dinyalakan kembali, sistem perlu penyesuaian tekanan, sehingga aliran air tidak langsung normal dan butuh waktu sekitar satu hingga dua jam,” jelasnya, Minggu (5/4/2026).
Ia menambahkan, distribusi air ke kawasan Puri Kirana 5 berada di jalur paling ujung jaringan, sehingga menjadi wilayah yang paling terdampak ketika terjadi gangguan. Sumber air sendiri berasal dari wilayah Air Serkuk dengan suplai tambahan dari Batu Mentas.
Menurut Munandar, pihaknya telah menerima berbagai keluhan masyarakat, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Upaya perbaikan terus dilakukan secara bertahap guna meningkatkan kualitas layanan air bersih.
“Kami memahami keluhan pelanggan. Pembenahan sedang berjalan, meski tidak bisa dilakukan secara instan. Target kami, ke depan distribusi bisa lebih stabil,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang terjadi, seraya menegaskan bahwa persoalan ini menjadi prioritas untuk segera ditangani.
Sementara itu, pihak pengembang Perumahan Puri Kirana turut mengungkapkan kondisi serupa. Direktur pengembang, Billy Jubilar, menyebut kerja sama dengan PDAM telah terjalin sejak awal pembangunan melalui nota kesepahaman.
“Kerja sama sudah ada sejak awal. Saat ini sekitar 30 unit rumah telah berdiri,” katanya.
Namun, menurut Billy, keluhan dari penghuni terus meningkat akibat distribusi air yang tidak konsisten. Ia mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima penjelasan dari PDAM terkait kendala seperti kebocoran jaringan pipa hingga gangguan pada mesin.
“Komplain dari warga cukup sering, terutama saat air tidak mengalir. Padahal dari sisi pengembang, kami sudah menyiapkan kebutuhan pendukung termasuk deposit listrik untuk kapasitas hingga seratus rumah,” jelasnya.
Billy menegaskan, jika kondisi ini tidak segera membaik, pihak pengembang akan mempertimbangkan opsi lain seperti pembangunan sumur bor sebagai solusi alternatif, meski sebelumnya mengandalkan layanan PDAM.
“Ini kebutuhan dasar. Kami berharap ada langkah konkret dalam waktu dekat agar masyarakat tidak terus dirugikan,” tegasnya.
Hingga saat ini, warga masih harus menghadapi ketidakpastian pasokan air yang tidak menentu. Manajemen perumahan juga menyampaikan permohonan maaf kepada penghuni, sembari berharap adanya penanganan cepat dan solusi nyata dari pihak terkait.
(TIM/RED)




